Minggu, 08 Agustus 2010

Sosial: Teori Medan

Pandangan dasar Psikologi Gestalt menyatakan bahwa gejala Psikologi terjadi pada suatu medan/lapangan (field) yang merupakan suatu sistem yang saling tergantung (interdependent) yang meliputi persepsi dan pengalaman masa lampau. Dalam hal ini unsur-unsur individu dari medan (field) tidak dapat dipahami tanpa mengetahui medan tersebut sebagai suatu keseluruhan.


A. Latar Belakang Psikodinamika

Teori lapangan (Field Theory) atau dinamakan juga Teori Psikodinamika, sering dikira orang hanya dikemukakan oleh Kurt Lewin saja. Hal ini tidak benar, karena selain Lewin ada tokoh-tokoh lain yang juga mengemukakan Teori Lapangan seperti Tolman (1932), Wheeler (1940), Lashley (1929) dan Brunswik (1949). Kelebihan Kurt Lewin atas tokoh-tokoh lainnya adalah bahwa Lewinlah yang paling jauh mengembangkan teori Lapangan ini sehingga ia dikenal sebagai tokoh yang paling terkemuka. Teori Lapangan Kurt Lewin sangat dipengaruhi oleh aliran Psikologi Gestalt.Oleh karena itu tidak mengherankan jika teori lapangan dari Kurt Lewin juga sangat mengutamakan keseluruhan daripada elemen atau bagian dalam studinya tentang jiwa manusia.

Salah satu ciri yang terpenting dari teori lapangan adalah bahwa teori ini menggunakan metode konstruktif.Metode konstruktif, atau disebut juga metode “genetik” adalah metode yang digunakan Lewin sebagai metode “klasifikasi”.Metode klasifikasi menurut Lewin mempunyai kelemahan karena hanya mengelompokkan obyek studi berdasarkan persamaan-persamaannya saja.

Sifat dinamis ini ada pada metode konstruktif yang mengklasifikasikan obyek-obyek studinya berdasarkan hubungan antara satu obyek dengan obyek lainnya. Ini adalah konsekuensi pertama dari penggunaan metode konstruktif dalam teori lapangan. Dengan “dinamis” dimaksudkan bahwa teori lapangan harus dapat mengungkapkan forces (daya, kekuatan) yang mendorong suatu tingkah laku.

Konsekuensi kedua dari metode konstruktif yang menjadi ciri teori lapangan adalah bahwa cara pendekatan yang digunakan dalam teori lapangan selalu harus psikologis. Semua konsep harus didefinisikan secara operasional. Akan tetapi, berbeda dari behaviorisme, definisi operasional dalam teori lapangan tidak obyektif melainkan subyektif.

Ketiga, analisis dalam teori lapangan harus berawal dari situasi sebagai keseluruhan, tidak dimulai dari elemen-elemen yang berdiri sendiri-sendiri. Dari awal yang menyeluruh itu barulah dapat dilakukan analisis terhadap masing-masing elemen atau bagian dari situasi secara khusus.

Keempat, tingkah laku harus dianalisis dalam “lapangan” di saat di mana tingkah laku terjadi. Cara pendekatannya tidak perlu historis, jadi tidak perlu menghubungkan dengan masa lalu seperti psikoanalisis, tetapi harus tetap sistematis.

Konsekuensi kelima adalah bahwa bahasa yang digunakan dalam teori lapangan harus eksak dan logis, jadi harus berupa bahasa matematik. Tetapi bahasa matematik tidak hanya kuantitatif. Bahasa matematik menurut Lewin bisa juga kualitatif. Dalam hubungan ini ia meminjam istilah-istilah dari geometri, khususnya tipologi (cabang geometri yang menganalisis posisi) untuk menerangkan peristiwa-peristiwa Psikologik.

B. Konsep – Konsep Dasar Teori Lapangan

Metode konstruktif memerlukan konstruk-konstruk yaitu pengertian yang mencakup serangkaian konsep. Dengan kata lain, konstruk adalah elemen dari teori lapangan, sedangkan konsep adalah elemen dari konstruk, konstruk yang terpenting dari teori lapangan tentunya adalah lapangan itu sendiri, yang dalam psikologinya diartikan sebagai lapangan kehidupan (life space)

1. Lapangan Kehidupan

Lapangan kehidupan dari seorang individu terdiri dari orang itu sendiri dan lingkungan kejiwaan (psikologi) yang ada padanya. Demikian pula lapangan kehidupan suatu kelompok adalah kelompok itu sendiri ditambah dengan lingkungan tempat kelompok itu berada pada suatu saat tertentu.

Jelaslah bahwa dalam konstruk yang paling dasar tentang lapangan kehidupan ini Lewin hanya memperhitungkan hal-hal yang ada bagi individu atau kelompok (subyek) belum tentu ada secara obyektif, sedangkan ada yang secara obyektif belum tentu ada secara subyektif. Disinilah tampak bahwa kurt Lewin lebih mementingkan deskripsi yang subyektif.

Ada atau tidak adanya sesuatu bagi subyek harus dibuktikan dengan ada atau tidak adanya pengaruh dari sesuatu itu terhadap subyek yang bersangkutan. Ibu, teman, dan kebutuhan adalah contoh hal-hal yang berpengaruh pada subyek. Oleh karena itu, hal-hal tersebut ada dalam lapangan kehidupan subyek yang bersangkutan. Sebaliknya, bencana alam di negara lain atau perubahan posisi dari bintang-bintang tertentu dilangit tidak berpengaruh pada subyek, sehingga tidak pada lapangan kehadapan subyek.

Ruang hidup (alwisol, 2004) merupakan gabungan antara daerah pribadi dan daerah lingkungan psikologis, yang secara matematis dapat dirumuskan dalam formula sebagai berikut:

Rh = ( P + E)

Keterangan:

Rh = Ruang Hidup

P = Daerah Pribadi

E = Daerah lingkungan psikologis

2. Tingkah laku dan Lokomosi

Tingkah laku menurut Lewin adalah lokomosi yang berarti perubahan atau gerakan pada lapangan kehidupan. Misalnya, seorang pegawai pergi dari kantornya (wilayah kerja) kerumah sakit (wilayah kesehatan) untuk memeriksakan diri ke dokter, maka pegawai itu melakukan lokomosi.Namun, kalau perpindahan itu terjadi pada waktu pegawai tersebut seorang pingsan di kantor dan di gotong ke rumah sakit, maka itu bukanlah lokomosi atau tingkah laku

Lokomosi dapat terjadi karena ada “ komunikasi” antara dua wilayah dalam lapangan kehidupan seseorang.Komunikasi antara 2 wilayah itu menimbulkan ketegangan pada salah satu wilayah dan ketegangan menimbulkan kebutuhan dan kebutuhan inilah yang menyebabkan tingkah laku.

3. Daya (Force)

Daya ini didefinisikan sebagai suatu hal yang menyebabkan perubahan.

Perubahan dapat terjadi jika pada suatu wilayah ada valensi tertentu. Valensi dapat bersifat negative atau positif tergantung pada daya tarik atau daya tolak yang ada pada wilayah tersebut. Kalau suatu wilayah mempunyai valensi positif maka ia akan menarik daya-daya dari wilayah-wilayah lain untu bergerak menuju arahnya.Sebaliknya, jika valensi yang ada pada suatu wilayah negatif , maka daya-daya yang ada akan menghindar atau menjauhi wilayah.

Berbicara tentang daya, Kurt Lewin membagi-bagi daya dalam beberapa jenis:

a. Daya Mendorong

b. Daya yang Menghambat

c. Daya yang Berasal dari kebutuhan sendiri

d. Daya yang berasal dari orang lain

e. Daya yang impersonal

4. Ketegangan

Meredakan ketegangan tidak berarti bahwa ketegangan itu harus hilang sama sekali (dalam keadaan nol), melainkan ketegangan itu disebarkan secara merata dari satu wilayah ke wilayah lain dalam lapang kehidupan.

Faktor yang penting yang dapat menurunkan ketegangan adalah tembusan, yaitu sampai berapa jauh batas-batas suatu wilayah dapat ditembus oleh adanya dari wilayah-wilayah lain disekitarnya

Substitusi lebih dimungkinkan jika antara dua wilayah yang bersangkutan terdapat banyak persamaan. Selain itu, substitusi lebih mudah terjadi pada orang-orang dengan lapang kehidupan yang cukup berdiferensiasi, berkembang dan bercabang-cabang , asalkan batas-batas wilayah yang ada dalam lapang kehidupan yang bersangkutan masih cukup tertembus oleh daya-daya yang akan masuk.

Faktor lain yang juga berpengaruh adalah kejenuhan,kalau kebutuhan-kebutuhan yang mendasari daya itu sudah dipuaskan sampai jenuh, maka ketegangan itu akan berkurang dengan sendirinya

C. Penerapan Teori Lewin

Diatas telah diuraikan konsep-konsep dalam teori Lewin selanjutnya meninjau bagaimana penerapan teori-teori pada gejala kejiwaan yang kongkret. Dua contoh gejala kejiwaan akan dikemukakan dibawah ini, yaitu “konflik” dan “tingkah laku agresif”.

1. Konflik

Konflik adalah suatu keadaan dimana ada daya-daya saling bertentangan arah’ tetapi dalam kadar kekuatan yang kira-kira sama.

Ada tiga macam konflik yaitu:

    1. Konflik mendekat-mendekat (approach-approach conflict) yaitu orang berada diantara dua valensi (nilai) positif yang sama kuat.

Contohnya: seorang artis harus memilih prfvesinya sebagai bintang sinotron atau melanjutkan pendidikannya sebagai mahasiwa kedokteran.

    1. Konflik menjauh-menjauh (avoidance-avoidance conflict ) yaitu orang –berada diantara dua valensi negatif yang sama kuat.

Contohnya: seorang yang terjebak di gedung lantai 10 yang kebakaran. Ia harus memilih lewat tangga darurat dengan waktu yang cukup lama (tidak sempat sampai ke lantai satu) atau loncat dengan resiko akan mati.

c. Konflik mendekat-menjauh (approach-avoidance conflict) yaitu seseorang menghadapi valensi positif dan negatife pada jurusan yang sama.

Contoh: anak meminta dan sayang kepada orang tua karena orang tua memberi, tetapi anak juga membenci orang tua karena orang tua serba melarang.(Sarwono, 2002)

2. Tingkah laku Agresif

Dalam eksperimennya, Kurt Lewin, dkk ( Lewin, Lippit, White, 1939, dalam Sarwono, 2004) menemukan bahwa dalam kelompok anak laki-laki yang diberi tugas-tugas tertentu dibawah pimpinan seorang pemimpin yang demokratis tampak perilaku agresif yang sedang, sedangkan pemimpin yang otoriter tampak perilaku agresi yang tinggi atau malahan sangat rendah.

Dalam kelompok demokratis daya-daya berimbang antara yang mendorong dan menghambat agresivitas sehingga mencapai tingkat yang sedang. Dalam kelompok yang otoriter, tingkah laku agresif meningkat tinggi apabila perasaan kebersamaan berkurang/ mengendor. Atau sebaliknya ada daya penekan yang begitu besar yang menghambat daya dorong tingkah laku agresif sehingga agresif tidak muncul.

D. Teori-Teori Lapangan dalam Psikologi

Teori dari Kurt Lewin danggap lebih manusiawi sehingga banyak ahli psikologi sosial yang tertarik dan mengembangkan lebih lanjut teori dari Kurt Lewin. Berikut ini akan dijelaskan 4 teori lapangan yang diterapkan psikologi sosial, yaitu :

1. Teori tentang hubungan interpersonal (antarmanusia) dari Heider (1958)

Berbeda dengan Lewin yang menggunakan istilah-istilah khusus, Heider menggunakan istilah sehari-hari yang digunakan orang awam sehingga psikologi Heider disebut psikologi common sense (logika berfikir sehari-hari). Common sense merupakan hal yang mengatur tingkah laku orang terhadap orang lain dan juga banyak mengandung kebenaran.

Heider mengemukakan bahwa tingkah laku interpersonal dapat diuraikan kedalam 10 aspek yaitu:

a. Mengamati orang lain

Pengamatan terhadap orang sebenarnya tidak berbeda dari pengamatan terhadap objek-objek lainnya (seperti meja, mobil, pohon, dll). Orang yang diamati disini memiliki kemampuan emosi, kehendak, keinginan , yang tidak terdapat pada benda mati. Seseorang (P) yang mengamati orang lain (O) tahu bahwaO tersebut juga mengamati P kembali. Dalam pengalaman timbal balik tersebut, baik O maupun P menghadapi dua pengalaman, yaitu pengalaman fenomenal dan pengalaman kausal. Pengalaman fenomenal adalah segala sesuatu yang terjadi dalam hubungan orang dengan lingkungannya, sedangkan pengalaman kausal orang yang bersangkutan mencoba menganalisis faktor-faktor/ kondisi-kondisi yang mendasari pengalaman fenomenal.

b. Orang lain sebagai pengamat

Dalam pengamatan terhadap lingkungannya, termasuk terhadap orang lain (O), seseorang (P) menyadari bahwa O juga mengamati P. Pengetahuan ini berpengaruh terhadap P dalam berbagai hal, yaitu tindakan, harapan, dan sifat-sifatnya. Misalnya, kalau Nanha melihat Lina senang pada tindakannya, maka Nanha akan membuat tindakan itu lagi, tetapi kalau Lina tidak senang, Nanha akan menghindari tindakan tersebut.

c. Analisis yang naïf terhadap tindakan orang lain

Dalam menginterpretasikan perilaku orang lain dilakukan analisis secara sederhana (naïf) dan dalam sifat itu dicari sifat-sifat bawaan (dispotitional properties) dari orang yang sedang diamati tersebut. Sifat-sifat bawaan adalah faktor-faktor yang mendasari perilaku seorang yang tidak berubah-ubah (permanen) seperti intelegensi.

d. Kaulitas personal dan impersonal

Dalam kausalitas personal, seseorang (P) dengan sengaja menghasilkan objek lain (X) tujuan P pada X adalah tetap (equifinality) dan untuk mencapai tujuan itu, seseorang (P) mengubah-ubah tindakannya kalau ia menghadapi situasi yang berbeda-beda. Disini faktor yang penting adalah faktor motivasi.

Dalam kausalitas impersonal, seseorang (P) tidak dengan sengaja menghasilkan objek lain (X). X yang dihasilkan seseorang (P) bisa bermacam-macam (multifinality) tergantung pada situasi yang dihadapinya. Motivasi disini tidak berpengaruh karena daya lingkungan yang lebih menentukan.

e. Hasrat dan Kesenangan

Hasrat (desire) adalah sesuatu yang harus ada terlebih dahulu sebelum timbul percobaan (trying). Dengan kata lain, hasrat merupakan prakondisi dari percobaan, sedangkan kesenangan (pleasure) adalah pengalaman yang timbul akibat (setelah) percobaan.

f. Sentimen

Perasaan yang timbul dalam diri seseorang(P) kepada orang lain (O) atau benda-benda lain (X). Sentimen ada 2 macam yaitu positif dan negatif yang dinamai oleh Heider suka (like) dan tidak suka (dislike).Pengaruh dari dua jenis sentimen ini terhadap hubungan interpersonal adalah bahwa ia dapat menimbulkan atau menghambat pembentukan unit (Unit information) dan keadaan berimbang (balance stale)

g. Keharusan dan Nilai

Keharusan adalah hal-hal yang dituntut oleh lingkungan (Bukan untuk orang lain) untuk dilakukan seseorang (P). jadi, keharusan bersifat impersonal.Nilai juga bersifat impersonal.Nilai menurut Heider hanya menyangkut segi positif dari suatu hal.Jadi, kalau suatu hal dianggap bernilai oleh seseorang, maka seseorang menganggap hal tersebut positif.

h. Permintaan dan Perintah

Permintaan (request) dan perintah (Command) masing-masing didasarkan pada sentimen dan kekuasaan.permintaan dasarnya adalah sentimen positif. Sebaliknya perintah didasarkan pada kekuasaan seseorang terhadap orang lain

i. Keuntungan dan Kerugian

Keuntungan disini adalah apabila orang lain melakukan apa yang diminta atau diperintahkan seseorang.Sebaliknya, apabila orang lain tidak melakukan apa yang diminta seseorang maka akan merugikan seseorang tersebut.

j. Reaksi terhadap Pengalaman Orang Lain

Persepsi terhadap pengalaman orang lain menimbulkan reaksi oleh psikologi common sense disebut emosi. Emosi ada 2 yaitu concordant dan discordant. Emosi yang concordant dikatakan oleh Heider sebagai ungkapan perasaan simpati yang sejati (terkait dengan perasaan-perasaan orang lain).Emosi discordant kebalikan dari emosi concordant yaitu berupa isi hati dan kegembiraan yang jahil

Komentar Tentang Heider

Heider telah mengemukakan teori yang cukup berbobot khususnya yang menyangkut teori atributif (teori sifat) dan teori keseimbangan (balanced Theory).Sekalipun Heider berusaha menerangkan hubungan Interpersonal dengan teorinya tersebut, tetapi sebagian besar dari teorinya itu hanya menerangkan tentang persepsi.

2. Teori Lapangan tentang Kekuasaan dari Cartwright (1959)

Menurutnya definisi kekuasaan berbunyi dalam rangka mengubah X menjadi Y.pada waktu tertentu sama dengan kekuatan maksimum dari daya-daya yang dapat dihasilkan oleh A ke jurusan tersebut (X ke Y) pada waktu tersebut.

Kekuatan maksimum dari daya yang dapat dihasilkan A merupakan selisih antara seluruh daya yang ada pada A dikurangi dengan daya tolak yang datang dari B kearah yang berlawanan (dari Y menuju X). Istilah daya diambil dari perbendaharaan istilah Kurt Lewin, tetapi Cartwright memberi arti tersendiri pada istilah itu yang didasarkannya pada 7 istilah “primitive” yaitu:


a. Pelaku (agent)

b. Tindakan Pelaku (Act of Agent)

c. Lokus (locus)

d. Hubungan langsung (Direct Joining)

e. Dasar Motif (Motive Base)

f. Besaran (magnitude)

g. Waktu (Time)


Berdasarkan ke-7 istilah primitif tersebut Cartwright merumuskan daya terdiri dari tindakan pelaku, dasar motif, sepasang lokus yang berhubungan langsung besaran, dan waktu. Daya inilah yang membentuk kekuasaan.

Jelaslah bahwa kekuasaan A atas B terjadi, jika A dapat, menggerakkan daya dari lokus X ke lokus Y dalam lapang kehidupan B.

Kelebihan Cartwright:

- Kurang jelas dalam mendefinisikan istilah-istilah primitif

- Kurang jelas mendefinisikan arti “kekuasaan”

Kekurangan Cartwright:

- Teorinya berhasil merangsang berkembangnya teori French (1956) yang mempelajari kekuasaan dalam system social

3. Teori Kekuasaan Sosial oleh French

Teori yang dikembangkan French terutama membahas proses pengaruh dalam kelompok.

Proses pengaruh mempengaruhi menurut French melibatkan 3 pola relasi dalam kelompok yaitu:

- Hubungan kekuasaan antar anggota kelompok

- Pola komunikasi dalam kelompok

- Hubungan antar pendapat dalam kelompok

Dengan demikian, walaupun namanya teori kekuasaan sosial namun teori French tidak secara eksplisit membicarakan kekuasaan sosial.

Model yang dikembangkan oleh French untuk menerangkan perubahan pendapat didasarkan pada teori Lewin tentang keseimbangan semu (quasi – stationery equilibrium). Digambarkan suatu garis pendapat yang dua dimensional daripada garis itulah terjadi pergeseran-pergeseran daya (force).Daya dapat dipaksakan dari A ke B disebut pengaruh sosial (social influence).Jumlah kekuatan dari daya-daya disebut kekuasaan (power). Jadi kekuasaan A atas B sebanding dengan kekuatan daya-daya yang ada yang dapat dipaksakan A kepada B dalam lapang kehidupan B. Selanjutnya French mendefinisikan kekuasaan dalam arti yang kurang lebih sama dengan definisi Cartwright.Rumusnya:

Kekuasaan (A atas B) = Daya A – Daya Perlawanan B

4. Teori Tentang Kerjasama dan Persaingan oleh Deutch (1949)

Pusat perhatian teori ini adalah pengaruh dan kerjasama dan persaingan dalam kelompok kecil.

Perbedaan kerjasama dan persaingan menurut Deutch terletak pada sifat wilayah-wilayah tujuan pada kedua situasi tersebut. Dalam situasi kerjasama, wilayah yang menjadi tujuan dari seorang anggota kelompok atau sub kelompok hanya dapat dimasuki oleh individu atau oleh sub-sub kelompok yang bersangkutan jika individu-individu lain atau sub kelompok lain juga bisa memasuki wilayah tujuan itu. Wilayah-wilayah tujuan dari anggota-anggota kelompok itu dikatakan sebagai saling menunjang.

Dalam situasi persaingan, jika seseorang individu atau suatu sub kelompok sudah memasuki wilayah tujuan, maka individu-individu atau sub-sub kelompok yang lain tidak akan bisa mencapai wilayah tujuan mereka masing-masing.Hubungan antara wilayah-wilayah tujuan anggota-anggota kelompok dinamakan saling menghambat.

Meskipun teori Deutsch memberikan konsep yang tajam dan jelas tentang situasi kerjasama dan persaingan sehingga dapat dijadikan dasar untuk penelitian, namun hipotesis yang diajukan hanya didasarkan pada suatu penelitian terhadap sebuah kelompok kecil yang sangat khusus sifatnya, yaitu kelompok yang terdiri dari 5 orang mahasiswa yang diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu.

E. Kelebihan dan Kekurangan Teori Lapangan

1. Kelebihan

Penelitian psikologi sosial dapat dilakukan dengan metode eksperimental dan dapat dilakukan dalam laboratorium.

2. Kelemahan

a. Kurt Lewin tidak menyajikan teorinya secara sistematis.

b. Banyak konsep dan konstruk tidak didefinisikan secara jelas sehingga memberi arti yang kabur.

c. Teori ini terlalu bersibuk diri dengan aspek-aspek yang mendalam dari kepribadian sehingga agak mengabaikan tingkah laku motoris yang “overt” (nampak dari luar)

d. Penggunaan konsep-konsep topologi telah menyimpang dari arti sebenarnya (penyalahgunaan topologi).


Daftar Pustaka

Alwisol.2004.Psikologi Kperibadian. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang

Dayakisni,T., Hudaniah. 2003. Psikologi Sosial. Malang: UMM Press.

Sarwono, S.W. 2002. Psikologi Sosial (Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial). Jakarta: Balai Pustaka

Sarwono, S.W. 2004. Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: PT.Raja Grafindo


Tidak ada komentar: