Senin, 05 Juli 2010

Asas-asas bimbingan konseling

1. Asas Kerahasiaan

Asas kerahasiaan ini mrupakan asas kunci dalam usaha bimbingan dan konseling. Jika asas ini benar-benar dilaksanakan, maka penyelenggara atau pemberi bimbingan akan mendapat kepercayaan dari semua pihak, terutama konseli atau peserta didik. Sehingga klien akan mau memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling dengan sebaik-baiknya.

Asas yang menuntut agar data dan keterangan konseli atau peserta didik yang menjadi sasaran pelayanan dirahasiakan. Data atau keterangan tersebut tidak boleh dan tidak layak untuk diketahui oleh orang lain. Konselor memiliki kewajiban untuk menjaga dan memelihara data atau keterangan tersebut agar kerahasiaannya benar-benar terjamin.

Sebaliknya, jika konselor tidak dapat memegang asas kerahasiaan dengan baik, maka hilanglah kepercayaan klien, akibatnya pelayanan bimbingan tidak dapat tempat di hati klien dan para calon klien. Klien takut untuk meminta bantuan, sebab khawatir masalah dan diri klien akan menjadi bahan gunjingan. Apabila hal terakhir terjadi, maka tamatlah riwayat pelayanan bimbingan dan konseling di tangan konselor yang tidak dapt dipercaya oleh klien itu.

2. Asas Kesukarelaan

Pada asas ini, konseli diharapkan secara suka dan rela tanpa ragu-ragu ataupun merasa terpaksa, menyampaikan masalah yang dihadapinya, serta mengungkapkan segenap fakta, data dan seluk beluk berkenaan dengan masalahnya kepada konselor. Konselor juga hendaknya dapat memberikan bantuan dengan tidak terpaksa, atau dengan kata lain konselor memberikan bantuan dengan ikhlas.

3. Asas Keterbukaan

Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan, baik keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari konseli. Keterbukaan ini bukan hanya sekedar bersedia menerima saran-saran dari luar, malahan lebih dari itu, diharapkan masing-masing pihak yang bersangkutan bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. Individu yang membutuhkan bimbingan diharapkan dapat berkata jujur dan berterus terang tentang dirinya sendiri sehingga dengan keterbukaan ini penelaahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan si terbimbing dapat terlaksanakan.

4. Asas Kegiatan

Asas yang menghendaki agar konseli dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan kegiatan bimbingan. Konselor perlu mendorong dan memotivasi konseli untuk dapat aktif dalam setiap layanan kegiatan yang diberikan kepadanya.

Usaha bimbingan dan konseling tidak akan memberikan hasil yang berarti bila konseli tidak melakukan sendiri kegiatan dalam mencapai tujuan bimbingan dan konseling. Untuk itu konselor hendaklah membangkitkan semangat konseli sehingga ia mau dan mampu melaksanakan kegiatan tersebut.

5. Asas Kemandirian

Asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yaitu: konseli sebagai sasaran layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu yang mandiri, ditandai dengan mengenal diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Konselor hendaknya mampu memberikan arahan dalam layanan bimbingan dan konseling untuk mengembangkan kemandirian konseli.

Kemandirian dengan ciri-ciri umum di atas haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan peranan konseli dalam kehidupannya sehari-hari. Kemandirian sebagai hasil konseling menjadi arah dari keseluruhan proses konseling, dan hal itu didasari baik oleh konselor maupun konseli.

6. Asas Kekinian

Asas yang menghendaki agar objek sasaran layanan bimbingan konseling yaitu permasalahan yang dihadapi konseli dalam kondisi sekarang. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat konseli pada saat sekarang.

Asas Kekinian juga mengandung pengertian bahwa konselor tidak boleh menunda-nunda pemberian bantuan. Jika diminta bantuan oleh konseli, maka konselor harus segera memberikannya. Konselor tidak selayaknya menunda memberi bantuan dengan berbagai dalih, kecuali memiliki alasan kuat untuk menunda kini, dan harus mempertanggungjwabkan bahwa penundaan yang dilakukan justru untuk kepentingan konseli.

7. Asas Kedinamisan

Asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap konseli hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

Usaha pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien, yaitu perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Perubahan itu tidaklah sekedar mengulang hal yang lama, yang bersifat monoton, melainkan perubahan yang selalu menuju ke suatu pembaruan, sesuatu yang lebih maju, dinamis sesuai dengan arah perkembangan klien yang dikehendaki. Asas kedinamisan mengacu pada hal-hal baru yang hendaknya terdapat pada dan ciri-ciri dari proses konseling dan hasil-hasilnya.

8. Asas keterpaduan

Asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain diharapkan saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Kerjasama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan dengan baik.

Keterpaduan yang harus diperhatikan meliputi kepribadian konseli, keterpaduan isi, dan proses layanan yang diberikan. Pelayanan bimbingan dan konseling hendaknya berusaha memadukan sebagai aspek kepribadian konseli. Sebagaimana diketahui individu memiliki berbagai aspek kepribadian yang kalau keadaannya tidak seimbang, serasi dan terpadu justru akan menimbulkan masalah. Disamping itu, jangan hendaknya aspek layanan yang diberikan tidak serasi dengan aspek layanan yang lain.

Untuk terselenggaranya asas keterpaduan, konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan konseli dan aspek-aspek lingkungannya, serta berbagai sumber yang dapat diaktifkan untuk menangani masalah konseli. Kesemuanya itu dipadukan dalam keadaan serasi dan saling menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling.

9. Asas Kenormatifan

Asas yang menghendaki agar segenap layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan sesuai dengan norma-norma, baik norma agama, hukum peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan dapat meningkatkan kemampuan konseli dalam memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma yang ada.

10. Asas Keahlian

Asas yang menghendaki agar layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Para pelaksana bimbingan dan konseling merupakan tenaga yang ahli dalam bimbingan dan konseling. Profesionalitas konselor harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakkan kode etik bimbingan dan konseling.

Asas keahlian selain mengacu pada kualifikasi konselor (misalnya pendidikan sarjana bidang bimbingan dan konseling) juga kepada pengalaman. Teori dan praktek bimbingan dan konseling perlu dipadukan. Oleh karena itu, seorang konselor asli harus benar-benar menguasai teori dan pratek konseling secara baik.

11. Asas Alih Tangan Kasus

Asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli sebaiknya mengalihtangankan kepada pihak yang lebih kompeten, baik yang berada dalam lembaga sekolah maupun di luar lembaga sekolah. Konselor dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru lain atau ahli lain.

Asas ini menjelaskan bahwa jika konselor sudah mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu individu, namun individu yang bersangkutan belum dapat terbantu sebagaimana yang diharapkan, maka konselor dapat mengirimi individu tersebut kepada petugas atau badan yang lebih ahli.

Di samping itu asas ini juga mengisyaratkan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling hanya menangani masalah-masalah individu sesuai dengan kewenangan petugas yang bertugas, dan setiap masalah ditangani oleh ahli yang berwenang untuk itu.

12. Asas Tut Wuri Handayani

Asas yang menghendaki agar layanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan rangsangan dan dorongan serta kesempatan untuk maju kepada konseli dengan seluas-luasnya.

Asas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada waktu konseli menghadap kepada konselor saja, namun di luar hubungan proses bantuan bimbingan dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan manfaat nya pelayanan bimbingan dan konseling itu. “ing ngarso sang tulodo, ing madya mangun karso”.


DAFTAR PUSTAKA

Prayitno & Ermananti. 1999. Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Prayitno, dkk. 1997. Pelayanan Bimbingan Dan Konseling: Sekolah Menengah Kejuruan. Buku Keempat. Jakarta: PT. Ikrar Mandiriabadi.

Winkel & Hastuti, 2006. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

Zen, Sulaiman. 2007. Konsep Bimbingan Dan Konseling Sekolah (Online). httpatauatau:www.farhanzen.wordpress.com, diakses pada tanggal 12 Oktober 2008.


Tidak ada komentar: